Di balik setiap hasil,
ada perjalanan.
Dari berpindah sekolah, merakit elektronik saat kecil, menjalani kuliah sambil berusaha, hingga menerima pekerjaan fotografi dan membantu Mama di Kupang. Di sini saya bercerita tentang hal-hal yang membentuk perjalanan saya.
Belajar tumbuh di tempat yang berganti.
Saya tumbuh sebagai anak seorang polisi. Di rumah, disiplin, etika, dan aturan mendapat tempat yang kuat. Didikan yang saya rasakan keras pada masanya tidak selalu mudah dijalani sebagai anak. Itu menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk saya.
Saya memulai TK dan kelas satu SD di Jakarta. Sekitar kelas dua, saya pindah ke Palembang, lalu ke Bengkulu selama beberapa bulan. Memasuki kelas tiga, saya kembali ke Palembang dan tinggal di sana hingga kelas satu SMP. Sesudah itu, perjalanan sekolah membawa saya ke Bandung, Banjarmasin, lalu kembali ke Bandung untuk SMA.
Setiap perpindahan berarti mengenal lingkungan baru, memulai pertemanan, dan kemudian berpisah lagi. Saya harus membiasakan diri dengan perubahan itu, meskipun tidak setiap perpisahan terasa ringan.
Seperti anak-anak lain pada masa itu, saya senang bermain layangan, mengejar layangan putus, bermain gambaran, serta memelihara dan mengadu ikan cupang. Saya juga masih ingat membuat gelasan bersama Ayah. Kami menyiapkan beling sendiri, tetapi hasilnya kasar dan layangannya justru tidak bisa naik. Kenangan kecil seperti itu ikut tinggal bersama saya.
Jakarta · Palembang · Bengkulu · Bandung · BanjarmasinRasa ingin tahu itu sudah ada sejak SD.
Sejak kelas tiga SD, saya sudah mengenal DOS, Lotus, WordStar, dan PrintMaster. Komputer menarik perhatian saya jauh sebelum menjadi bagian dari pekerjaan. Saya ingin mencoba dan mengetahui apa yang bisa dilakukan dengannya.
Pada masa itu saya juga senang membuat prakarya elektronik. Salah satunya sebuah bel yang saya rakit sendiri. Berbekal petunjuk yang saya baca, saya mencari modul dan papan elektronik di toko, membeli kebutuhannya, lalu merakit dan menyoldernya sendiri. Ini bukan tugas sekolah, melainkan sesuatu yang memang ingin saya coba.
Perangkat kecil milik Ayah pernah menginspirasi percobaan yang saya sebut “communicator”. Saya menyusun pertanyaan dan jawabannya sendiri, seolah sedang bercakap dengan komputer. Saya bertanya, lalu muncul jawaban yang sebelumnya sudah saya siapkan.
Kini, ketika berinteraksi dengan AI, saya teringat kembali pada percobaan itu. Dahulu saya membayangkan bisa bertanya dan mendapat jawaban dari komputer. Sekarang saya bisa mengalaminya secara langsung. Ketertarikan saya pada elektronik dan IT bukan sesuatu yang baru muncul belakangan, melainkan rasa ingin tahu yang terus saya bawa sejak kecil.
Dulu, menggunakan komputer berarti belajar berbicara dalam bahasanya. Bahkan untuk sekadar menyalin file, saya harus mengingat dan mengetik perintah. Pada komputer yang saya gunakan saat itu, belum ada kemudahan antarmuka Windows seperti yang kita kenal sekarang. Kini, pekerjaan yang dulu memerlukan beberapa perintah bisa selesai dengan beberapa klik. Bahkan, saya dapat berbicara kepada komputer untuk membantu memindahkan file antarlokasi atau mendiktekan sebuah surat.
Cara menyimpan file pun berubah begitu jauh. Saya masih ingat memakai media yang ukurannya hampir sebesar buku catatan, meskipun kapasitasnya kecil. Sekarang, banyak file berukuran besar bisa dibawa dalam perangkat yang hanya seukuran kunci. Melalui penyimpanan cloud, saya bahkan tidak perlu membawa media penyimpanan sendiri untuk membuka file yang sama dari komputer lain.
Banyak hal yang dahulu terasa seperti khayalan kini menjadi bagian dari keseharian. Sebuah ide atau konsep yang masih mentah dapat menjadi titik awal, lalu komputer membantu saya menyusun, mengolah, dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang dapat dikerjakan. Melihat perubahan itu membuat saya terus ingin mencoba, sekaligus bertanya apa lagi yang mungkin kita lakukan di masa depan.
Saya merasa beruntung pernah mengalami perjalanan ini. Rasanya seperti mengenal mobil manual terlebih dahulu, lalu menikmati kemudahan mobil otomatis. Saya pernah merasakan bagaimana rumitnya masa itu, menikmati kemudahan yang ada sekarang, dan membayangkan seperti apa teknologi nantinya. Bagi saya, mengalami sendiri perubahan tersebut jauh lebih berkesan daripada sekadar membaca sejarahnya. Teknologi terus berganti, tetapi rasa ingin tahu yang menemani saya sejak kecil tetap ada.
Belajar hidup jauh dari orang tua.
Selama SMA di Bandung, saya tinggal di kos. Saya berjalan kaki saat berangkat dan pulang sekolah, serta menggunakan kendaraan umum untuk bepergian. Jauh dari orang tua terasa berat dan membuat saya sedih. Mungkin saat itu saya belum terbiasa dengan jarak tersebut.
Dalam pergaulan, saya tidak terlalu mengalami kesulitan. Saya senang ikut teman-teman bermain bola dan basket. Pernah juga saya jatuh dari pohon karet saat bermain bergelantungan, sampai terluka dan berdarah. Teman-teman kemudian membawa saya ke UKS.
Satu pengalaman lain yang masih saya ingat terjadi di kelas sejarah. Guru saya sangat tegas dan meminta kami terus menatapnya ketika ia menjelaskan. Suatu hari saya sedang mencatat penjelasannya, lalu mendapat teguran karena tidak terus menatapnya.
Awalnya teguran itu saya terima. Ketika teguran tersebut menyentuh cara orang tua mendidik saya, saya menyampaikan keberatan. Saya menjelaskan bahwa saya sedang mencatat, bukan mengabaikan beliau, dan meminta agar teguran kepada saya tidak menjadi penghinaan terhadap orang tua. Saya siap bila nilai sejarah saya menjadi buruk. Ternyata, nilai yang saya peroleh adalah delapan.
Menghormati guru, sekaligus belajar menyampaikan keberatan.Mencari jalan, sambil memenuhi kebutuhan.
Perjalanan kuliah saya sempat berubah arah. Saya pernah belajar di STT Telkom Bandung, jurusan Teknik dan Sistem Informatika, kemudian melanjutkan pendidikan di University of Business Nusantara, Jakarta. Di kampus itulah saya menyelesaikan S1 ekonomi, dengan peminatan manajemen keuangan dan perbankan.
Masa kerusuhan 1998 menjadi salah satu pengalaman yang membekas. Kampus saya berada di Cawang dan sejumlah mahasiswa aktif mengikuti demonstrasi. Saat itu saya tinggal di kompleks Polda Metro Jaya, sementara Ayah bertugas di garis depan pengamanan Jakarta. Saya melihat sendiri kerusuhan yang terjadi.
Sebagai anak seorang polisi, saya juga mengalami kecurigaan dari sebagian mahasiswa yang menganggap saya mata-mata aparat. Bahkan, dalam situasi itu ada yang hendak menculik saya. Padahal saya tidak ikut demonstrasi maupun pertemuan untuk membahas aksi. Perhatian saya tertuju pada kuliah, belajar dan memperoleh nilai sebaik mungkin.
Sambil kuliah, saya menjalankan usaha kecil berupa warnet dan fotokopi. Saya ingin berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dan mengurangi beban orang tua. Saya juga mengupayakan keringanan biaya kuliah melalui beasiswa. Kuliah dan usaha menjadi dua bagian kehidupan yang saya jalani bersamaan.
Bersama Darwis Triadi, 2011
Membantu Mama, menerima pekerjaan foto.
Saya masih di Jakarta ketika Ayah bertugas di Kupang sebagai Wakapolda Nusa Tenggara Timur. Setelah Ayah pensiun, orang tua saya merintis klinik bersalin. Mama memiliki latar belakang sebagai bidan. Ketika beliau membutuhkan bantuan menjalankan klinik, saya datang ke Kupang. Dari situlah keterlibatan saya dalam perjalanan Mamami dimulai.
Saat Mamami masih berupa klinik, saya tidak bisa mengharapkan banyak penghasilan dari sana. Sambil membantu orang tua, saya menerima pekerjaan fotografi sebagai penghasilan tambahan, mulai dari wedding, prewedding, foto produk, hingga berbagai acara. Saya ingin ikut memenuhi kebutuhan dan mengurangi beban orang tua.
Dua tanggung jawab itu saya jalani pada masa yang sama. Jadwal fotografi yang tidak selalu padat memberi ruang untuk tetap membantu di Mamami. Fotografi bagi saya bukan sekadar hobi, tetapi juga pekerjaan yang perlu dipersiapkan dan diselesaikan dengan baik.
Saya belajar di Darwis Triadi School of Photography. Bersama tim FOKUS sekitar 2010-an, saya menjalankan layanan wedding dan prewedding serta multimedia acara. Untuk pekerjaan besar, saya mendatangkan editor video dan operator Jimmy Jib dari Jawa agar hasil yang diberikan kepada pelanggan lebih baik.
Minat pada teknologi sejak kecil ikut saya bawa ke fotografi, termasuk penggunaan drone. Dalam perjalanan yang saya ingat, saya menjadi pengguna drone pertama di Kota Kupang untuk dokumentasi pernikahan dan acara. Saya ingin memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk menghasilkan karya sebaik mungkin.
Bagi saya, nilai sebuah pekerjaan tidak berhenti pada uang yang diterima. Ada kepercayaan pelanggan yang menjadi tanggung jawab untuk dijaga melalui kualitas hasil.
Perubahan teknologi juga sangat saya rasakan dalam dunia fotografi. Saya tidak mengalami langsung proses fotografi film hingga mencuci film sendiri. Namun, saya pernah membawa kamera serta lensa berukuran besar demi mengejar kualitas foto yang saya inginkan. Setiap bepergian, perlengkapan itu membutuhkan tas, bahkan koper tersendiri. Kini, untuk banyak kebutuhan saya, mulai dari unggahan media sosial hingga cetak foto, hasil dari ponsel terasa sudah cukup sebanding. Membawa semua perlengkapan itu kembali terasa merepotkan, ketika perangkat yang saya perlukan sekarang bisa terselip di kantong.
Apalagi, hasil dari kamera itu sering kali masih perlu saya poles lagi di Photoshop sebelum benar-benar sesuai dengan yang saya bayangkan. Untuk mendalami Photoshop, saya membeli dan membaca berbagai buku serta e-book. Yang perlu saya pelajari bukan hanya cara menggunakan alat atau menjalankan langkah-langkah penyuntingan. Saya juga harus memikirkan konsepnya, menentukan suasana yang ingin dibangun, dan membayangkan hasil akhir sebelum mulai mengerjakannya. Ide dan keterampilan teknis harus berjalan bersama.
Sekarang, sebagian proses itu dapat dimulai hanya dengan sepenggal kalimat. Saya cukup menjelaskan perubahan yang diinginkan, lalu komputer membantu mengerjakan sebagian penyuntingannya. Banyak penyuntingan kini bahkan bisa saya lakukan langsung di ponsel. Pada sebagian foto yang tampak kurang fokus, penyuntingan juga dapat membantu tampilannya terlihat lebih tajam. Kemajuan ini memberi kemudahan yang dahulu sulit saya bayangkan, sekaligus membuka lebih banyak ruang untuk mencoba berbagai ide.
Meski menikmati kemudahan itu, ada pertanyaan yang tetap mengusik saya. Apakah kita akan terus mengasah kreativitas ketika begitu banyak hal dapat dikerjakan komputer? Dan ketika komputer bermasalah, apakah kita masih mampu berkarya dengan keterampilan sendiri? Saya berharap teknologi membantu kita berkembang, tanpa membuat kita berhenti belajar atau melupakan kemampuan yang dahulu kita bangun dengan susah payah.
Namun, kemajuan ini juga mengajak saya bertanya dari sudut yang berbeda. Dengan teknologi yang ada sekarang, karya seperti apa yang bisa saya hasilkan, yang sebelumnya terasa mustahil saya wujudkan secara manual? Bagi saya, memanfaatkan teknologi bukan hanya soal mempercepat pekerjaan yang sudah saya kuasai. Ada kesempatan untuk menggali ide yang lebih jauh, mencoba pendekatan yang berbeda, dan menciptakan sesuatu yang belum pernah saya kerjakan sebelumnya. Kemudahan itu justru menjadi alasan untuk terus mengembangkan imajinasi dan keberanian mencoba.
Lihat karya fotografi
Hal kecil.
Arti besar.
Berawal dari yang bisa saya kerjakan.
Saat orang tua saya menjalankan manajemen klinik, saya membantu dari kebutuhan sehari-hari: penyaluran air ke kamar pasien, foto bayi yang saya potret dan cetak sendiri, serta pamflet untuk memperkenalkan layanan Mamami.
Keluhan tentang air mendorong saya memperbaiki jalur pipa, membuat penyaluran otomatis, dan mengupayakan pasokan dari air tanah. Hal-hal kecil, tetapi punya arti karena menjawab kebutuhan yang ada di depan mata.
Air yang mengalir · Kenangan pertama seorang bayi · Informasi yang sampaiBelajar membuka jalan berikutnya.
Setelah S1, saya melanjutkan S2 Magister Manajemen (Konsentrasi Manajemen Rumah Sakit) di Universitas Widya Mandira Kupang dan lulus dengan Predikat Pujian, IPK 3,86. Pendidikan kemudian membawa saya ke S3 Ilmu Administrasi di Universitas Nusa Cendana Kupang, yang saya selesaikan dengan predikat cum laude dan IPK 3,97. Bagi saya, pencapaian ini adalah bagian dari perjalanan yang penuh usaha, bukan akhir dari belajar.
Dulu, orang sering bertanya kepada saya, “Buat apa lagi ambil S3?” Bagi saya, jawabannya bukan semata-mata untuk mengejar gelar. Pekerjaan yang saya jalani erat kaitannya dengan pelayanan publik. Saya merasa perlu memahami lebih dalam bagaimana pelayanan publik seharusnya dijalankan dan bagaimana kita dapat melayani masyarakat dengan lebih baik. Itulah yang mendorong saya mendalami Ilmu Administrasi Publik.
Proses menempuh S3 tidak selalu mudah. Pada tahap akhir saya pernah diminta mengerjakan kembali disertasi dari Bab I, dan saya tetap mengerjakannya. Ketika menghadapi persoalan pembimbingan yang saya nilai sudah melampaui batas, saya menyampaikan keberatan melalui jalur resmi. Setelah pergantian pembimbing, saya melanjutkan studi hingga selesai dengan nilai disertasi A, di atas 80.
Pengalaman itu mengingatkan saya pada masa SMA. Saya ingin tetap menghormati guru dan pembimbing, sekaligus berani menjelaskan posisi saya ketika merasa diperlakukan tidak semestinya. Di tengah persoalan tersebut, tanggung jawab akademik tetap perlu saya selesaikan.
Ketika menengok kembali perjalanan itu, saya melihat bahwa kesulitan selama S3 juga membawa berkat tersendiri. Proses yang berat mendorong saya membaca lebih jauh, mempertanyakan kembali apa yang saya pahami, dan mengenal dunia pengetahuan yang jauh lebih luas. Ada wawasan yang mungkin tidak akan saya temukan seandainya perjalanan ini berjalan mudah. Pada akhirnya, yang saya bawa pulang bukan hanya gelar, tetapi juga cara pandang yang lebih luas terhadap pekerjaan dan pelayanan.
S1 Ekonomi · S2 Magister Manajemen · S3 Ilmu Administrasi
Masih banyak yang ingin saya pelajari.
Kini saya ingin terus mengembangkan digitalisasi pelayanan dan manajemen Mamami, termasuk pengawasan online. Saya juga mendalami AI. Perjalanan ini masih berjalan, bersama pertanyaan dan kemungkinan baru.
Kerinduan untuk terus belajar juga membuat saya merencanakan kuliah hukum. Saya ingin memahami berbagai kebijakan dari sudut pandang hukum, agar keputusan dan langkah yang saya ambil dalam pekerjaan memiliki dasar yang saya pahami dan dapat saya jelaskan.
Bab berikutnya akan diperbarui mengikuti apa yang benar-benar saya kerjakan dan pelajari.
Arah kerja saat ini, bukan daftar pencapaian yang telah selesai.Setiap gagasan diuji melalui sesuatu yang benar-benar dikerjakan.
Lanjut ke Karya